(Sport) Dari Matchweek 14-15 Liga Inggris

07-12-2018 11:12

 

 

Para penggemar sepakbola khususnya Liga Inggris kembali disuguhi beberapa pertandingan menarik di matchweek ke 15 yang berlangsung Kamis tanggal 5 Desember dini hari tadi. Padahal, baru sekitar empat hari sebelumnya, matchweek 14 dilangsungkan.

Sudah menjadi tradisi di Liga Inggris bahwa bulan Desember menjadi bulan paling sibuk sekaligus paling seru. Hasil-hasil pertandingan Liga Inggris di bulan Desember akan menentukan jalan dan takdir seperti apa yang harus mereka hadapi di sisa setengah kompetisi lagi. Apakah mereka akan bertarung dalam perebutan juara, atau sekedar memasang target masuk empat besar saja? atau malah terjerumus ke dalam pusaran pertarungan hidup mati yang akan menentukan apakah mereka akan hidup dan bertahan di liga utama atau harus degradasi ke divisi Championship.

Kalau melihat jadwal Liga Inggris bulan Desember yang dimulai sejak matchweek ke 14 akhir pekan lalu, nyaris hampir setiap tiga hari sekali Liga Inggris akan memutar kompetisi mereka, dan ini tidak termasuk dengan tambahan pertandingan di sela-selanya bagi klub-klub yang berlaga di kompetisi Eropa (Liga Champions dan Europa).


Hal ini tidak akan ditemui di liga-liga utama lainnya di Eropa karena justru memasuki pekan liburan Natal, mereka meliburkan kompetisi.

Lain hal dengan Liga Inggris, bahkan di malam Natal dan Tahun Baru sekalipun, kompetisi tetap diputar, penonton masih berbondong-bondong ke stadion. Tinggal para manager klub yang harus memutar akal dan strategi untuk terus memotivasi para pemainnya agar tetap semangat menghadapi pertandingan-pertandingan di pekan-pekan itu, dimana kemungkinan besar pikiran mereka sudah dipenuhi oleh rencana libur Natal dan Tahun Baru yang tidak kesampaian.

Matchweek ke 15 Kamis dini hari adalah sambungan cerita dari matchweek 14 bagi beberapa klub dan pemain tertentu, Apakah Watford mampu menjadi klub pertama yang mengalahkan Manchester City musim ini, Apakah Arsenal akan meneruskan sukses menggapai tiga poin lagi setelah akhir pekan kemarin berhasil mengalahkan seteru abadi mereka Tottenham Spurs, dan yang tidak kalah menarik adalah untuk melihat apakah Jordan Pickford kiper utama Everton memang bermental baja seperti apa yang ia canangkan beberapa jam setelah pertandingan melawan Liverpool hari Minggu malam kemarin berakhir.

Matchweek 14 , Dua Partai Derby Nan Seru

Liverpool vs Everton

Dini hari tadi, Jordan Pickford, kiper utama Everton yang juga merupakan kiper nomer satu tim nasional Inggris melangkah masuk ke lapangan di Goodison Park dengan penuh percaya diri, para penonton pendukung Everton dengan antusias memberikan dukungan mereka dengan applaus panjang. Sambutan para pendukung Everton terhadap kiper klub kebanggaan mereka itu, seperti ingin berkata ,

“Ayo, Jordan , bangkit. Kamu tidak sendirian, kami mendukungmu !” , hal tersebut selain untuk menaikkan moral dan kepercayaan diri Jordan, juga secara tidak langsung seperti mengejek tim tetangga mereka, Liverpool yang langsung membuang Karius, kiper mereka setelah final piala Champions musim lalu yang dikenang sebagai malam paling menjengkelkan bagi seluruh fans Liverpool di seluruh dunia.

Jordan di hari minggu lalu telah melakukan satu kesalahan fatal sehingga Everton harus mengakui keunggulan (lagi dan lagi) tim tetangganya Liverpool. Tidak ada yang tahu, apa sebenarnya yang ingin dilakukan oleh Jordan sehingga bola yang sudah pasti akan keluar itu harus dihalau untuk masuk kembali ke dalam lapangan, sementara berjarak satu meter saja, striker Liverpool , Origi dengan sigap segera menyambar bola keberuntungan tersebut dengan kepalanya , kurang dari satu menit kemudian, pertandingan usai.

Stadion Anfield bergemuruh, Jordan tampak menyesal, sementara rekan rekan satu tim memandangnya dengan rasa tidak percaya , “Apa yang sudah kau lakukan?”

Tidak harus menunggu lama, banter antara fans Liverpool dan Everton mulai riuh di sosial media, berbagai meme yang isinya mengejak Jordan si kiper malang itu mulai ramai diproduksi. Pendukung Liverpool untuk sementara diberi kesempatan menunggang angin, pendukung Everton harus kembali pasrah jadi bahan ejekan dan cemoohan.

Sebagian pendukung Everton mencoba melakukan perlawanan, mereka dengan gagah berani berkata bahwa kesalahan Jordan di malam naas tersebut tidak sebanding dengan kesalahan bodoh yang dilakukan Loris Karius di malam final piala Champions. Tentu saja para pendukung Liverpool juga sudah siap membalas,

“Sementara si Karius kiper level medioker saja sudah bisa tampil di piala Champions, Jordan Pickford sampai kapanpun hanya bisa bermimpi untuk tampil di Liga Champions”, demikian ujar mereka sambil terkekeh-kekeh.

Apalagi ketika sebagian besar pendukung Liverpool kembali menampilkan cuplikan wawancara Jordan Pickford yang mengejek Allison, kiper Liverpool yang melakukan blunder dalam penampilan awalnya di musim ini saat melawan Leicester. 

Dalam wawancara itu, Pickford dengan percaya diri berkata bahwa dirinya tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti apa yang dilakukan Allison. Seperti karma, ia harus menelan kata-katanya tersebut, lengkap dengan rente. Pendukung Liverpool makin kalap mengejek Pickford, seperti kawanan hyenna mendapat sarapan daging mentah.

Derby Merseyside antara Liverpool dan Everton adalah partai klasik Liga Inggris , usia derby mereka sudah berusia seabad lebih (derby pertama mereka adalah di tahun 1894), orang-orang yang lahir di kota Liverpool seperti ditakdirkan untuk menjadi biru atau merah saja.

Walau sangat sengit bertikai di dalam lapangan dan stadion, di luar sepakbola, tidak sulit bagi mereka untuk saling mendukung, apalagi kalau harus melawan kebijakan pemerintah. Usia derby yang sudah berusia seabad ini juga mewariskan tradisi derby yang cukup unik karena tidak jarang ada satu keluarga yang anggota keluarganya terbagi menjadi biru dan merah, di dalam stadion, sering terlihat tempat duduk disesaki oleh para penonton yang memakai baju merah dan biru yang bercampur di satu sudut yang sama, padahal sudah menjadi standar umum untuk memisahkan pendukung kedua tim di dua tempat yang berbeda.

Sudah beberapa hari berlalu, para pendukung Liverpool masih saja terus bergembira mengejek Jordan, kali ini para pendukung Everton harus pasrah (lagi) sambil menunggu hari pembalasan dimana Liverpool akan bermain di markas mereka tahun depan.

 

Arsenal vs Spurs

Bagi pendukung garis keras Arsenal, keberhasilan Arsenal di dalam satu musim kompetisi tidak hanya berdasarkan dari posisi dan nilai poin mereka di akhir musim, tapi juga dari satu keharusan untuk menang melawan Tottenham Hotspurs dipertandingan apapun. Jadi, bisa maklum kalau beberapa musim terakhir ini dianggap sebagai situasi seperti di neraka, karena posisi Spurs yang lebih baik dari Arsenal di akhir musim.

Di Minggu malam itu, pelatih baru Arsenal Unai Emery berhasil mengembalikan harga diri Arsenal. Rekor 18 kali tanpa kalah di berbagai pertandingan musim ini berhasil ia perpanjang dengan mengalahkan seteru abadi mereka itu dengan skor telak 4-2.

Pertandingan berjalan panas, di akhir babak pertama, pelatih Pochettino harus berlari ke ujung lapangan untuk melerai para pemainnya yang terlibat perkelahian kecil, selain itu pertandingan tersebut juga menghasilkan satu kartu merah. Para pemain Arsenal tampak sangat menghayati apa arti derby sementara Spurs melakukan perlawanan dengan sengit.

Para penonton terpuaskan (kecuali pendukung Spurs tentunya), bahkan para penonton netral pun terhibur. Arsenal tampil seperti apa yang diharapkan, menampilkan apa yang hilang saat dilatih Arsene Wenger. Emery sukses merebut kepercayaan dari para suporter garis keras Arsenal. Apa yang dilakukan Emery di babak kedua, dengan mengganti pemain sayap mereka dengan tambahan seorang striker dianggap sebagai satu taktik revolusioner.

Maklum, di ujung masa kepelatihan Arsene Wenger, Arsenal identik dengan tim tanpa kejutan dan permainan datar, tim yang ingin bermain aman-aman saja, melakukan pergantian pemain untuk bermain dengan dua orang striker adalah hal yang tak terbayangkan di masa kepelatihan Wenger. Pochettino pun mengakui, kedua centre back mereka kehilangan fokus saat Arsenal bermain dengan dua striker, sehingga akhirnya mereka harus kebobolan lebih banyak lagi dan salah satu centre back mereka harus diusir wasit.

Selamat datang era baru Arsenal !

Walau sedang dalam kondisi yang sangat kondusif, para pendukung Arsenal sangat sadar, bahwa mengalahkan Spurs adalah sangat memuaskan, tapi bukanlah segalanya, melawan Manchester United di Old Trafford dianggap mereka sebagai satu pertandingan dimana akan terlihat dengan jelas, terbuat dari apa Arsenal versi Emery ini ? , jadi mereka sudah sangat antusias untuk pertandingan tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan Everton dan Liverpool, Arsenal dan Spurs ditakdirkan untuk berseteru sejak lahir, hampir bisa dipastikan para remaja pria pendukung Arsenal di London Utara harus berpikir dua kali lebih banyak untuk berpacaran dengan para gadis pendukung Spurs, atau calon mertua pendukung klub lawan. Pernah salah satu channel fans TV melakukan eksperimen dengan meminta para pejalan kaki di London Utara yang berkaus Arsenal untuk mencium seorang gadis model cantik. Sebagian besar dari mereka menjawab tidak sudi, hanya karena gadis tersebut berkaus jersey Spurs.

DT seorang pendukung Arsenal dalam wawancaranya dengan Arsenal Fans TV secara bergurau berkata bahwa di Minggu malam itu, setelah Arsenal memastikan kemenangan atas Spurs, ia sudah siap untuk tidak dihiraukan oleh Ibunya sendiri, Ibunya adalah seorang pendukung garis keras Spurs.

Dengan bercanda ia menyapa ibunya melalui TV,

“Ibu, saya sangat mencintaimu, hanya saja kenapa kau harus menjadi pendukung klub sialan itu ?!”

 

Matchweek 15, Hebatnya Wolves dan City

Slavisa Jokanovic, pelatih Fulham FC mengaku, dirinya sungguh sangat iri terhadap nasib Nuno Santo, pelatih Wolverhampton. Sebagai sesama pelatih tim promosi, Santo mendapat dukungan dana yang memadai untuk menambah kekuatan timnya untuk bisa bersaing syukur syukur bisa bertahan di Liga Utama Inggris ini. Sampai minggu ke 15, Wolves mantap berada di posisi ke 12 di klasemen, sementara Jokanovic sendiri harus menerima nasib dipecat.

Dini hari tadi, Wolves berhasil mengejar ketinggalan satu gol untuk menang 2-1 melawan Chelsea tim papan atas Liga Inggris yang nilai satu kipernya saja, mungkin sudah setara dengan beberapa pemain inti mereka. Sampai matchweek 15 ini, Wolves konsisten menjadi tim promosi yang paling mengejutkan.

Mourinho kembali gagal membimbing Manchester United untuk meraih kemenangan, sampai saat ini, sudah empat pertandingan liga terakhir mereka ini berujung kegagalan dan Mourinho kembali menyalahkan para pemain belakangnya yang dinilai sudah habis jauh sebelum pertandingan berakhir.

Para pendukung Arsenal kemungkinan besar juga sangat kecewa dengan hasil seri dini hari tadi itu karena dalam 15 menit akhir, Arsenal mendominasi jalannya pertandingan, kalau bukan karena kehebatan David De Gea, Arsenal sudah kembali dengan tiga poin. Tapi tentu mereka sadar, menahan seri Manchester United di Old Trafford tidak bisa diaggap sebagai kegagalan. Kedua tim harus puas berbagi poin dengan skor 2-2.

Para pendukung klub Liverpool harus berterima kasih kepada Jurgen Klopp dan manajemen klub mereka yang dinilai telah berhasil memecahkan masalah klasik Liverpool yang sudah berlangsung sejak lama.

Evolusi Liverpool sebagai salah satu tim elite Inggris (yang berhasil masuk final Piala Champions) tapi mempunyai rekor defensive paling bobrok di seluruh Eropa pada musim lalu, sungguh sangat mencengangkan.

130 juta pound yang dibayar untuk kiper Allison dan Bek Virgil Van Dijk adalah solusi yang berhasil membuat Liverpool menjadi klub dengan rekor defensive terbaik di seluruh Eropa. Sampai minggu ke 15, Liverpool baru kemasukan enam biji gol saja.

Keberhasilan mengalahkan Burnley di Turf Moor yang dingin dan berangin membuat Liverpool tetap menjaga jarak dengan pemimpin klasemen yang terpaut hanya dua poin saja.

Tidak banyak yang bisa diulas untuk si pemimpin klasemen Manchester City, setidaknya sampai matchweek ke 15 dini hari tadi, pertanyaan itu masih juga belum terjawab, “Siapa yang akan berhasil mengalahkan mereka untuk pertama kalinya musim ini ?”, rutinitas kemenangan mereka setiap minggu sudah cukup membuat bosan para penggemar Liga Inggris.

Bagaimana kisah lanjutan Jordan Pickford si kiper Everton dini hari tadi ? Ia membuktikan tekadnya, tampil dengan mental baja Jordan sukses menahan beberapa peluang emas Newscastle, walau sepanjang pertandingan sebagian penonton lawan dengan riang gembira bernyanyi mengejeknya, Jordan tampil dingin.

“Hei Jordan Pickford, kau kiper bertangan pendek … “, nyanyian dan yel yel para pendukung Newscastle terus bergema, sementara kiper yang dimaksud tampil luar biasa di lapangan. Everton harus puas dengan hasil seri.

Bukan salah Everton sehingga mereka harus puas dengan nilai seri, Rafael Benitez menggelar formasi super defensive 5-4-1 yang secara langsung sudah bisa ditebak targetnya.

Para pemain Newscastle mengeksekusi strategi Benitez secara setia dan disiplin, nilai satu poin tidaklah jelek bagi Newcastle yang nampaknya akan segera berganti pemilik, setelah Mike Ashley dikabarkan akan menjual klub tersebut kepada penawar tertinggi.

Bagi para pendukung militan Newscastle, kehilangan poin sudah tidak menjadi hal penting lagi, tapi apabila mereka berhasil menekan Mike Ashley keluar dari klub mereka, itulah nampaknya bagi mereka kemenangan yang paling berharga di musim ini.

(Reeta Cm – Penonton Liga Inggris)

*foto-foto diambil dari google image.

.

 

 

Read more...