Saatnya Pembatasan RPM Berdasar MERK Motor di WSBK Dicabut

16-04-2019 06:04

 

 

 

 

Dekade 1990 hingga mid 2000 adalah era dimana Ducati mendominasi WSBK. 13 kali juara dunia. Sampai ada pameo “kalau mau juara ya naik Ducati”. Mencegah dominasi berkepanjangan seperti ini, FIM kemudian lebih progressif dalam menggunakan regulasi agar WSBK menjadi lebih menarik.

Tahun 2017 FIM menerapkan aturan pembatasan RPM berdarkan merk. Pembatasan ini dilakukan karena beberapa hal:

  1. Tim Kawasaki berturut-turut mendominasi balap pada 3 musim 2014, 2016 dan 2017.
  2. Memberi kesempatan riset dan development bagi tim-tim yang baru muncul untuk juga tampil kompetitif.

 

Pembatasan ini terasa efeknya di tim Kawasaki. Tom Sykes yang sebelumnya bisa tampil sangat kompetitif dengan gaya ridingnya yang agresif dalam memaksimalkan karakter ZX10RR mulai keteteran. Dalam beberapa kesempatan ia mengeluhkan perubahan karakter engine akibat pembatasan RPM ini. Ia terpaksa hengkang ke BMW. Jonathan Rea lebih beruntung, karakter ridingnya yang sangat halus bisa beradaptasi dengan pembatasan RPM ini.

 

Namun pembalap Kawasaki lain, termasuk di tim satelit, kelabakan dengan pembatasan ini. Jadi kemenangan Rea pada 2017 dan 2018 bisa dikatakan Rea Effect, ia berhasil adaptasi.

 

2 tahun sudah berselang, tim-tim lain tampil jauh lebih kompetitif berkat pengembangan motor atau bahkan motor baru. Terlihat dari 11balapan yang sudah berlangsung, pemenang tidak melulu Kawasaki lagi. Bahkan Ducati yang datang dengan motor baru V4R mendominasi posisi 1 dan bahkan 3.

 

Bautista yang datang dari arena MOTOGP tentu telah terasah dan terbiasa dengan kompetisi yang maha ketat, ini salah satu penyebab ia seperti tampil sangat dominan. Namun terlihat Davies, rider Ducati lainnya juga telah bangkit sangat kompetitif. Yamaha dengan Lowes dan Van De Mark juga menjadi langganan podium.

 

 

Pada 3 balap pertama 2019, Ducati V4 limiter dipatok pada angka 16,350 RPM, sementara Kawasaki ZX10RR di angka 14,600 RPM. Selisih 1,750 RPM tentu sangat berpengaruh. Apalagi mesin V4 diuntungkan karena torsi lebih padat, dan tetap bisa revving up lebih tinggi. Sementara mesin inline 4 sebenarnya puncak tenaganya ada di RPM atas namun disunat lebih awal.

 

 

Dengan kompetisi yang lebih ketat seperti sekarang ini, sudah saatnya restriksi RPM yg berbeda-beda BERDASARKAN MERK motor ditinjau ulang, atauh bahkan dicabut. Kalaupun ada pembatasan hendaknya berdasar KONFIGURASI mesin (inline 4, V4, Vtwin dll) ataupun KAPASITAS CC. Bukan selektif berdasar MERK.

 

Kesemua tim saat ini sudah siap untuk berkompetisi head-to-head tanpa perlu ada intervensi utk meredam dominasi Kawasaki seperti 2-3 tahun lalu.

Screen Shot 2019-04-16 at 3.14.18 PM

 

Read more...